TRANS PASIFIC PARTNERSHIP (TPP) DAN REGIONAL COMPREHENSIVE ECONOMIC PARTNERSHIP (RCEP): UPAYA INTEGRASI ASIA PASIFIK DAN KOMPETISI NEGARA HEGEMON EKONOMI

DHENNY YUARTHA JUNIFTA

Abstract


Kegagalan kesepakatan panjang Doha Round, nama formal Doha Development Agenda, telah memberikan pengaruh pada pergeseran perjanjian kearah kesepakatan-kesepakatan perdagangan bilateral ataupun regional. Permasalahannya, peningkatan jumlah perjanjian perdagangan justru memberikan kompleksitas lain bagi Asia Pasifik seperti trade diversion dan noodle bowl effect. Inilah yang kemudian menyebabkan munculnya era baru kesepakatan regional perdagangan bebas yang lebih besar dan menyangkut regional dengan persebaran utama pada perdagangan dunia,  yang disebut Megar Regional Trade Agreements (MRTAs). Trans-Pasific Partnership (TPP) yang dipimpin oleh Amerika Serikat dan Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) dengan China sebagai motor utama menjadi MRTAs paling ambisius di Asia Pasifik. Dua Isu dalam kedua perjanjian tersebut adalah, sebagai jalan terwujudnya integrasi Asia Pasifik dan adanya perbedaan kepentingan ekonomi antara negara besar tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk menjawab kedua isu tersebut serta pertimbangan keikutsertaan Indonesia diantara kedua MRTA tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Kualitatif dengan pendekatan deskriptif, Hasil penelitian menunjukkan bagaimana upaya integrasi sebenarnya telah dilakukan oleh Asia-Pasific Economic Cooperation (APEC) melalui Bogor Goals, FTAAP, hingga Beijing Roadmap. Meskipun begitu berbagai upaya integrasi tersebut akan menemui fakta rivalitas antara AS melalui TPP dengan latar belakang unilateral Hegemony dan China melalui RCEP dengan Cooperative Hegemony. Indonesia lebih mengutamakan perjanjian RCEP dibanding TPP atas dasar alasan ekonomi dan non-ekonomi.

 

 Kata kunci: RCEP, TPP Integrasi, dan Hegemony,


Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.